Minggu, 28 Oktober 2018

   




EKONOMI PADA DEMOKRASI TERMPIMPIN



 Demokrasi Terpimpin dibentuk Seokarno pasca adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam bidang ekonomi dipraktekkan ssstem ekonomi  Terpimpin, Presiden Soekarno secara langsung terjun dan mengatur perekonomian-perekonomian yang terpusat pada pemerintah pusat yang menjurus pada sistem ekonomi etatime menyebabkan menurunnya kegiatan ekonomi. Pada gilirannya keadaan perekonomian mengalami invlasi yang cukup parah. Pada akhir tahun 1965 inflasi telah mencapai 650 persen. Secara khusus sebab-sebab pokok kegagalan ekonomi terpilih adalah sebagai berikut :


Penanganan/penyelesaian masalah ekonomi yang tidak rasional

Ekonomi lebih bersifat politis dan tanpa terkendali

Defisit yang makin meningkat yang ditutup dengan mencetak mata uang sehingga menyebabkan inflasi

Tidak adanya suatu ukuran yang objektif dalam menilai suatu usaha/hasil orang lain

Struktur ekonomi cenderung bersifat etatisme[1].

Pembentukan Depernas dan Bappenas


    Sementara itu, garis-garis besar Pola Pembangunan Semesta Berencana Tahap 1 (1961 – 1969) yang telah disusun oleh Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan telah diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 1 Januari 1961. Depernas disusun di bawah Kabinet Karya pada tanggal 15 Agustus 1959 yang dipimpin oleh Mohammad Yamin dengan beranggotakan 80 orang.  Tugas dewan ini menyusun overall planning yang meliputi bidang ekonomi, kultural dan mental. Pada tanggal 17 Agustus 1959 Presiden Soekarno memberikan pedoman kerja bagi Depernas yang tugas utamanya  memberikan isi kepada proklamasi melalui grand strategy, yaitu perencanaan overall dan hubungan pembangunan dengan demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin. Namun pada penerapannya tidak berhasil, Hal ini disebabkan antara lain sebagai berikut :


Rencana pembangunan kurang matang

Biaya pembangunan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri kurang memadai

Proyek-proyek yang sudah direncanakan sering diterlantarkan

Pembangunan lebih mengarah pada pembangunan yang bersifat Mercusuar[2]

Depernas pada tahun 1963 diganti dengan Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno sendiri. Tugas Bappenas ialah menyusun rancangan pembangunan jangka panjang dan jangka pendek, baik nasional maupun daerah, serta mengawasi laporan pelaksanaan pembangunan, dan menyiapkan dan menilai Mandataris untuk MPRS.


Senaring


   Selain itu upaya pemerintah untuk mengatasi inflasi adalah dengan cara melakukan senaring. Kebijakan  sanering[3] yang dilakukan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 2/1959 yang berlaku tanggal 25 Agustus 1959 pukul 06.00 pagi. Peraturan ini bertujuan mengurangi banyaknya uang yang beredar untuk kepentingan perbaikan keuangan dan perekonomian negara. Untuk mencapai tujuan itu uang kertas pecahan Rp500 dan Rp1000 yang ada dalam peredaran pada saat berlakunya peraturan itu diturunkan nilainya menjadi Rp50 dan Rp100.  Kebijakan ini diikuti dengan kebijakan pembekuan sebagian simpanan pada bank-bank yang nilainya di atas Rp25.000 dengan  tujuan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan keuangan kemudian diakhiri dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 6/1959 yang isi pokoknya ialah ketentuan bahwa bagian uang lembaran Rp1000 dan Rp500 yang masih berlaku harus ditukar dengan uang kertas bank baru yang bernilai Rp100 dan Rp50 sebelum tanggal 1 Januari 1960.


Proyek Mercusuar 


    Politik Mercusuar dijalankan oleh presiden sebab beliau menganggap bahwa Indonesia merupakan mercusuar yg dpt menerangi jalan bagi Nefo di seluruh dunia.


Untuk mewujudkannya maka diselenggarakan proyek-proyek besar dan spektakuler yg diharapkan dpt menempatkan Indonesia pada kedudukan yg terkemuka di kalangan Nefo. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya yg sangat besar mencapai milyaran rupiah diantaranya diselenggarakannya GANEFO (Games of the New Emerging Forces ), pendirian kompleks Olahraga Senayan serta MONAS (Monumen Nasional).




Deklarasi Ekonomi (Dekon)



   Deklarasi Ekonomi atau Dekan disusun oleh Panitia 13. Anggota panitia ini bukan hanya para ahli ekonomi, namun juga melibatkan para pimpinan partai politik, anggota Musyawarah Pembantu Pimpinan Revolusi (MPPR), pimpinan DPR, DPA. Panitia ini menghasilkan konsep yang kemudian disebut Deklarasi Ekonomi (Dekon) sebagai strategi dasar ekonomi Indonesia dalam rangka pelaksanaan Ekonomi Terpimpin. Dekon disampaikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963. Strategi Ekonomi Terpimpin dalam Dekon  terdiri dari beberapa tahap; Tahapan pertama,  harus menciptakan suasana ekonomi yang bersifat nasional demokratis yang bersih  dari sisa-sisa imperialisme dan kolonialisme. Tahapan ini merupakan persiapan menuju tahapan kedua yaitu tahap ekonomi sosialis. Beberapa peraturannya merupakan upaya mewujudkan stabilitas ekonomi nasional dengan menarik modal luar negeri serta merasionalkan ongkos produksi dan menghentikan subsidi.


Pada tanggal 26 Mei 1963, pemerintah mengeluarkan peraturan-peraturan yang berjumlah 14 kemudian terkenal dengan Peraturan 26 Mei, yang isinya antara lain:


Peraturan Presiden No.1 tahun 1963 tentang pelaksanaan Deklarasi Ekonomi di bidang ekspor

Peraturan Presiden No. 6 tahun 1963 tentang pelaksanaan Deklarasi Ekonomi di bidang impor

Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1963 tentang kebijakan dalam bidang harga

Peraturan Presiden No. 7 tahun 1963 tentang aktivitas perusahaan dagang negara dalam rangka pelaksanaan Deklarasi Ekonomi

Peraturan pengganti Undang-Undang No. 3 tahun 1963 tentang perubahanUndang-undang No. 4 Prp tahun 1959 dan pencabutan Undang-undang no. 32 Prp tahun 1960 dan Undang-undang No. 34 Prp tahun 1960

Intrusi presiden RO No. 2 Tahun 1963 tentang koordinasi garis kebijaksanaan dalam pelaksanaan Deklarasi Ekonomi dan sebagainya.

Namun pada penarapannya Dekon tidak bisa mengatasi kesulitan ekonomi.


[1] Etatisme adalah suatu paham dalam pemikiran politik yang menjadikan negara sebagai pusat segala kekuasaan. Negara adalah sumbu yang menggerakkan seluruh elemen politik dalam jalinan rasional yang dikontrol secara ketat dengan menggunakan instrument kekuasaan.


[2] Politik mercesuar yaitu Indonesia harus sebagai pemimpin pertama dari negara-negara NEFO. Indonesia diibaratkan sebagai mercusuar bagi negara lain, Indonesia sebagai penunjuk jalan, Indonesia akan menyinari negara-negara yang tergabung dalam NEFO. Tujuannya adalah agar Jakarta (Indonesia) mendapatkan perhatian dari negara luar. Politik Mercesuar ini dilakukan dengan membangun berbagai proyek raksasa yang megah misalnya pembangunan Monumen Nasional (Monas), Gedung Conefo yang sekarang menjadi gedung DPR, MPR dan DPD, pertokoan Sarinah, Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Bendungan Jatiluhur, Masjid Istiqlal, Jembatan Semanggi, Patung Selamat datang


[3] Senaring adalah pemotongan daya beli masyarakat melalu cara pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang sehingga daya beli masyarakat menurun.  Pada awal kemerdekaan, Indonesia pernah melakukan senaring yakni pada tanggal 30 Maret 1950. Kebijakan yang dibuat oleh Menkeu Syafrudin Prawiranegara ini kemudian terkenal dengan nama Gunting Syafrudin yang isinya menggunting uang kertas bernilai Rp. 5,oo ke atas sehingga nilainya berkurang setengahnya.


Konsep Djuanda



   Upaya perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin selanjutnya ialah melaksanakan konsep djuanda. Pemerintah mulai memikirkan rakyat dengan melakukan usaha pembebasan Irian Barat dan penyelesaian kasus DI Jawa Barat dengan cara rehabilitasi ekonomi. Pemikiran tersebut mulai direalisasikan setelah keamanan nasional mulai membaik dan pulih kembali. Sebelumnya konsep ini diberi nama konsep rehabilitasi ekonomi yang diketuai oleh Menteri Pertama Ir Djuanda. Untuk hasil dari konsep tersebut diberi nama Konsep Djuanda. Sebelum terbitnya konsep ini terdapat beberapa kritikan tajam dari PKI sehingga membuat konsep tersebut mati. PKI menganggap konsep Djuanda terdapat kaitannya dengan pelibatan negara Amerika Serikat, Yugoslavia, dan negara revisionis.


Kenaikan Laju Inflasi



   Upaya perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin yang terakhir ialah melaksanakan kenaikan laju inflasi. Pendapatan negara yang tidak memadai disertai anggaran belanja negara yang meningkat membuat kondisi ekonomi menjadi lebih buruk. Namun Presiden Soekarno tetap berpendiri pada penghimpunan dana revolusi meskipun devisa memiliki cadangan yang menipis. Dana yang diterapkan oleh presiden berguna untuk biaya proyek mercusuar atau prestise politik dengan melakukan pengorbanan terhadap ekonomi dalam negeri. Peningkatan laju inflasi di dasari oleh :


Pemerosotan nilai mata uang rupiah.

Masalah masalah negara tidak dapat diatasi dengan pinjaman dari luar negeri.

Pemerosotan penghasilan devisa negara dan penghasilan lainnya.

Anggaran belanja negara semakin mengalami defisit besar.

Tidak terdapat pengaruh manajemen perusahaan serta penertiban administrasi untuk menyeimbangkan keuangan.

Gagalnya upaya menyalurkan kredit baru dalam menyejahterakan rakyat.

Tidak adanya keberhasilan dalam melakukan usaha likuidasi dalam pihak swasta dan pemerintahan sebagai usaha mengawasi dan menghemat anggaran belanja. 

Upaya perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin bahkan mengalami kegagalan akibat pemerintah melakukan pelaksanaan proyek mercusuar sehingga setiap tahun membutuhkan biaya yang cukup besar. Tidak hanya itu saja, pemerintah juga tidak memiliki kemampuan politik dalam menekan pengeluaran yang terjadi. Dengan begitu akan mengakibatkan dampak harga tinggi hampir mencapai 200 hingga 300% pada tahun 1965, masyarakat mengalami kehidupan yang terjepit, lemahnya devisa yang berakibat pada pembatasan impor dan kegiatan ekspor, laju inflasi tinggi, dan semakin habisnya cadangan emas serta devisa negara. 




Nama Kelompok :


Akhmad Alfin N       (02)


Alfandi Akbar F        (03)


M Alwi Zanwar        (16)


M Ramdhan Eka F   (17)


Nauval Helmi             (19)

Senin, 16 April 2018

Proklamasi Kemerdekaan : Kesempatan dalam Kesempitan Kekalahan Nippon di pasifik

    Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 Lengkap - Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan tanggal istimewa bagi rakyat Indonesia, karena pada tanggal tersebut Republik Indonesia mulai berdiri, Republik Indonesia mulai dikumandangkan kemerdekaannya oleh sang proklamator Soekarno dan M Hatta. Sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, banyak peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa terbesar dalam sejarah Indonesia tersebut. Bagi Anda yang belum tahu tentang sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, berikut ini ulasan selengkapnya.
Latar Belakang
     Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima, Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau Dokuritsu Junbi Cosakai, berganti nama menjadi PPKI ( Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
    Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km disebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus. Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang.
    Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang. Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong. Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan. Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan.Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Peristiwa Rengasdengklok
    Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana--yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dinihari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apapun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs.Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda
     Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Maeda Tadashi dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militerJepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshiguna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshiyang setengah mabuk duduk dikursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti. Bung Hatta, Subardjo, B. M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih di dengungkan. Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor(Laut) Dr. Hermann Kandeler. Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan kekediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarangJl. Proklamasi no. 1).
Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi
    Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis diruang makan di laksamana Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti.
Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Isi Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia. 
Soekarno/Hatta 
     Acara dimulai pada pukul 10:00 WIB dengan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan indonesia oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor. Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih ( Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional. Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S. Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45.
   Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian. Setelah itu Soekarno dan M. Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan Wakil Presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

 sumber: http://disdik-kepri.com/index.php/94-makalah-artikel/316-sejarah-singkat-kemerdekaan-indonesia

Senin, 06 November 2017

assalamualaikum wr.wb

pada artikel kali ini kami akan mengulas tentang perang-perang yang terjadi selama masa penjajahan kolonial

selamat menyaksikan,berikut:

NO
NAMA PERANG
LOKASI
TOKOH-TOKOH
PENYEBAB
UPAYA
DAMPAK
1
Perang Tondano
Sulawesi utara
Romakian,Dotu gerungan,Dotu wengkang
Dicabutnya perjanjian verbound  10 januari 1649,VOC memaksakan orang-orang menjual beras dengan murah ke VOC akhirnya orang-orang minahasa menolak dan memerangi orang-orang minahasa
Orang minahasa memindahkan tempat tinggalnya didanau tondano dengan rumah-rumah apung,melakukan perlawanan dari rumah untuk memerangi pasukan yang dibenuk oleh prediger
VOC  telah berhasil menguasai wilayah ternate karena  VOC  berhasil menang diperang ternate,pedagang makasar yang bebas berdagang mulai tersingkir oleh VOC
2
Patimura angkat senjata
maluku
Thomas matulesy,christina martha tianahu,thomas pattiwail,lucas latumahina,mayor beetjes,said parinta
Penindasan bangsa belanda terhadap penduduk maluku,ketidak puasaan rakyat terhadap gubernur maluku,aturan monopoli dagang yang keras,pengawasan terhadap keamanan yang terlalu ketat
Menghancurkan kapal-kapal belanda dipelabuhan,mengepung benteng duurstede
Patimura dan menghukum mati dengan cara dihukum gantung dialun-alun kota ambon,selain itu berhasil menahan christina dan membuatnya kejawa sebagai pekerja rodi namun ia sakit dan meninggal
3
Perang padri
Sumatra barat(minangkabau)
Tuanku imam bonjol,tuanku nan renceh,tuanku pasaman,tuanku rao,tuanku lintau
Bermula adanya pertentangan antara kaum padri dengan kaum adat telah menjdai pintu masuk bagi campur tangan belanda
Imam bonjol dikuasai belanda,imam bonjol ditipu dan ditangkap,benteng dalu-dalu jatuh pada 28-12-1838,wilayah padangse berada dibawah pengawasan pemerintahan hindia belanda
Putranya gugur dalam pertempuran,berhasil mengusir belanda dari sungai puar
4
Perang diponegoror
jawa
Pangeran diponergoro
Intervensi dan campur tangan belanda dalam urusan pemerintah dikeraton
Menyusun strategi dan mengumpulkan pasukan ke gowa selarong,memperluas perang keberbagai daerah
Taktik benteng steesel yang membunuh banyak anggota
5
Perlawanan di bali
bali
Igusti ketut jelantik
Pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh raja buleleng
Penyerangan terhadap kaum belanda yang dipimipin igusti ketut jelantik
Jagaraga diserang pasukan belanda,igusti ketut jelantik,raja buleleng,jero jempring terbunuh
6
Perang banjar
aceh
Pangeran hidayatullah,pangeran antasari
Tekanan dari pihak memperburuk kesultanan serta intervensi
Pangeran antasari bergabung dengan aling-aling untuk menurunkan tamjidillah,pembakaran tambang batu bara dan pemukiman belanda di pengaron
Peningkatan pasukan belanda,banyak benteng-benteng yang di duduki belanda
7
Aceh berjihad
aceh
Teuku imeum,leung bata,tengkucik ditiro
Ambisi orang-orang belanda untuk menguasai aceh
Menaruh sepionase di belanda,pembunuhan terhadap kohler
Melipatgandakan kekuatan belanda,masjid baiturahman jatuh ke belanda

Perang sabil
aceh
Cut nyak dien,teuku uman
Ambisi belanda untuk menguasai aceh
Dukungan dana dari sultan muhammad daud syah,perlawanan yang dilakukan diberbagai daerah yang membuat belanda kewalahan peristiwa het veraa dvan teukue oemar yang membuat belanda kehilangan banyak harta
Belanda memperkuat pasukan dan menggempur berbagai pertahanan dan benteng
8
Perang batak
Padang(sumbar)
Sisingamangaraja XII
Perluasan wilayah yang dilakukan belanda yang mengusir raja batak sisingamangaraja,keinginan belanda menguasai batak
Kampanye pengusiran zending dan penolakan kristenisasi,membuat pertahanan dipak-pak dan pairi
Sisingamangaraja XII tertembak bersama putrinya,lopian dan 2 orang puteranya yabg mengakhiri perang batak


Senin, 25 September 2017



Tabel Perlawanan terhadap Kolonial





NAMA PERANG
LOKASI
TOKOH-TOKOH
PENYEBAB
UPAYA
DAMPAK
Aceh VS Portugis dan VOC
Aceh
Iskandar muda
Para pedagang islam yang menyingkir dari makasar keaceh,yang memancing portugis untuk menghsncurkan aceh
melengkapi armada dagang aceh persenjataan,mendatangkan kekuatan persenjataan dan tentara dari turqi dan negara lain
Jatuhnya aceh ketangan pemerintah hindia belanda,menguatnya kesatuan persatuan kekuatan aceh
Maluku angkat senjata

Pangeran Nuku,Sultan Khairun,Sultan Baabdullah
Karena kapal-kapal portugis menembaki jung-jung dari Belanda yang akan membeli cengkeh ke Tidore
Perjanjian saragosa
Portugis kewalahan akibat serangan Sultan Khairun,Portugis mengadakan perjanjian damai
Sultan Agung VS Jpcan
Batavia
Sultan Agung
Monopoli yang dilakukan VOC,VOC menghalangi kapal mataram ke Batavia,VOC menolak kedaulatan mataram,keberadaan VOC dijawa memberi ancaman kepualauan Jawa
Meningkatkan kekuatan militer dan persenjataan,menyediakan lumbang beras ditegal dan cirebon,perlawanan rakyat yang dipimpin Sultan Agung Tirtayasa
Kegagalan mataram menyerang voc membuat VOC semakin berambisi mengepung mataram dan menimbulkan perlawanan rakyat
Perlawanan Banten
Banten
Sultan Ageng Tirtayasa
Banten memilikiposisi yang strategis yang sebagai bandar perdagangan internasional
Mengundang para pedagang Eropa ,Sultan Ageng mengirim beberapa pasukan untuk mengganggu kapal dengan VOC
Pelabuhan Banten yang dulunya ramai sekarang menjadi sepi,banyak korban yang berjatuhan,hubungan VOC dan Banten memburuk
Perlawanan Gowa
Sulawesi selatan
Sultan Hasanuin,Arung.K
Belanda mengetahui bahwa pelabuhan Gowa sangat penting
Mempersiapkan benteng dan memperkuat pertahanan untuk menghadapi VOC,koordinasi terhadap sekutu Gowa
Kerajaan Gowa mengalami kekalahan
Rakyat Riau angkat senjata
Riau
Raja siak,Sultan abdul jalil rahmat syah
Ambisi VOC untuk melakukan monopoli dan mengincar kepulauan Riau
Perlawanan yang dilakukan sri indrapura untuk merebut johor,mengirim pasukan untuk merebut malaka
Riau menang melawan dan Raja Indra pahlawan diangkat sebagai panglima
Orang-orang  Cina Berontak
Batavia
Oey panko,Raja pakubuwono II
Karena VOC mengambil rempah-rempah dan hasil bumi secara semena-mena
Mendapat bantuan dari Raja Pakubowono II
VOC memperkuat pasukan dan persenjataandan yag membutuhkan pemberontakan orang-oramg cina
Perlawanan pangeran mangkubumi dan massaid
Jawa
Pangran mangkubumi,Raden massaid ,Raden sutawijaya
Munculnya perlawanan Raden massaid terhadap VOC
Pangeran mangkubumi dan Raden massaid bersatu untuk melawan VOC
Membuat mangku bumi bersedia menandatangani perjanjian giyanti,Raden massaid menandatangani perjanjian saatiga